19 July, 2007

Harus Khawatir atau Bangga?


Hari ini adalah hari ke empat anak kedua saya, Chiara, sekolah di kelas 1 SD. Dan merupakan hari-hari pertamanya melakukan perjalanan sekolah yang agak jauh dari rumah. Sebagai orang tua ada sedikit kekhawatiran saya akan kegiatan anak saya "yang agak jauh dari rumah" ini. Makanya saya mencari sebisa mungkin menyelenggara jemputan sekolah yang saya kenal.
Hari pertama sekolah-pun, saya cuti dari pekerjaan, dan diam-diam ikut melihat kegiatan anak saya dari jauh, untuk memastikan "kemampuan" kemandiriannya. Dia juga yang menolak untuk diantar ke sekolah,... dia hanya mau berangkat sekolah hanya apabila naik jemputan. ... hal ini membanggakan,...inikah kemandiriannya? atau perlukah saya kawatir, karena dia "sendiri" di sekolah. .... Tapi mungkin perasaan saya ini hanya sesaat sebagai orang tua,.. mudah-mudahan.
Tapi hari ini,.. anak saya sebagaimana biasanya berangkat ke sekolah dengan jemputan sekolah. Sebelum sampai ke sekolah driver dari jemputan itu telepon saya dan mengatakan bahwa anak saya sakit perut dan tidak mau sekolah. Jadi saya minta kepada driver itu untuk mengantar anak saya pulang saja. Di sini muncul lagi kekhawatiran saya. Mungkin saderwek masih ingat cerita saya tentang snak saya yang satu ini. Pada awalnya dulu dia agak susak untuk diajak pergi ke sekolah (PG atau TK,.. ). Mungkinkah dia takut akan sesuatu sehingga dia berusaha berbohong dengan mengatakan bahwa dia sakit perut, karena sesampainya di rumah dia bilang sakit perutnya sembuh? atau benar-benar sakit perut. Yang saya khawatirkan,... apakah dalam konteks ini dia sudah "bisa" secara sadar melakukan perbuatan "berbohong"? Mudah-mudahan tidak.
Walau khawatir, saya tetap bangga akan anak saya ini karena kemandiriannya.

24 May, 2007

Sama aja

Ini cuma cerita,...... tapi kalo mo serius ngartiiinye bole juga.

Gini,..
Suatu ketika, sebuah harian terkemuka di Jakarta dengan nada yakin dan juga agak angkuh menyajikan satu hasil survey (tidak disebutkan siapa yang menyelenggarakan survey tersebu) yang menyatakan bahwa ".... ternyata dengan meyakinkan terbukti bahwa 50% dari pejabat negara adalah koruptor".
Tentu saja hasil survey itu membuat para pejabat yang tersinggung seperti kebakaran jenggot. Berbagai pernyataan, penolakan, bahkan protes pun dilancarkan. Terakhir, pimpinan dari para pejabat tersebut dengan diam-diam (secara rahasia getoooh) mendatangi kepala redaksi harian tersebut dan mengancam akan mencabut izin penerbitannya apabila tidak meralat berita tersebut pada hari yang lainnya, yang isinya ditentukan sendiri oleh pimpinan para pejabat tadi.
Sekarang giliran redaktur harian tersebut yang kebakaran jenggot. Dia terus berfikir apakah akan memegang tegus keyakinan dan kejujurannya,... atau ia akan menggadaikan keyakinannya itu demi kelangsungan "usaha" dibidang percetakan mediamassa itu.

Hasilnya, ..... pada keesokan harinya ternyata ada ralat di harian tersebut yang mengatakan bahwa:.. " kami mohon maaf atas kesalahan cetak pada isi dari pemberitaan kemarin,...yang sebarusnya dalah berbunyi: '....ternyata dengan meyakinkan terbukti bahwa 50% dari pejabat negara kita adalah bukan koruptor".
...........................ahhhhh redaktur pun lega.............. para pejabat pun tenang................................
yang bingung ya cuma saya sendiri.

04 May, 2007

Kampoeng Naga

Baca artikel "orang perkasa dari Baduy" saya jadi teringat pengalaman sya waktu "mampir" ke satu perkampungan tua di dekat Garut (katanya sih masih masuk wilayah kabupaten Tasik). Namanya Kampung Naga. Sebenernya ga ada rencana pergi ke sana. Tapi saya meresa bersyukur karena bisa ke sana dan pengelaman yang saya dapet juga menarik untuk saya ceritakan di sini.

Sepulang dari Ciamis bulan April lalu untuk silaturrachmi dengan keluarga bi Yayah atas kebahagiannya menikahkan Acep, walaupun telat karena pada hari H-nya saya tidak bisa berangkat, dan selamatan nini, saya berencana pergi ke Garut tepatnya ke Cipanas karena hal itu sudah lama saya janjikan ke anak-anak. Hari itu, Sabtu 7 April 2007, pagi-pagi saya berangkat ke arah Garut, melalui Tasikmalaya. Dalam perjalanan saya teringat ada satu kampung tua yang bernama kampung naga. Saya tawarkan ke anak-anak dan istri saya untuk mampir, dan ternyata mereka antuasias untuk dapat mendatangi kampung tersebut.

Kampung naga adalah satu desa tua yang terletak di satu lembah dan dikelilingi perbukitan. Itulah sebabnya kenapa disebut kampung naga, yaitu "Na gawir" (yang letaknya dina gawir/jurang/lembah). Perjalanan ke desa itu rupanya tidak mudah. Karena letaknya ada di bawah lembah, kami harus menuruni anak tangga yang cukup curam dan jauh jaraknya. Walaupun tidak sempat menghitungnya, katanya jumlah anak tangga itu sekitar 380-an. Dari ujung anak tangga itu, kami harus berjalan kaki lagi di antawa pesawahan yang sangat hijau dan sejuk walaupun matahari cukup terik saat itu, jaraknya kurang lebih 500-an meter.

Kelelahan kami tak sia-sia karena setelah berjalan kaki 20 menit, kami sampai di kampung naga. Saya sangat kagum. Masyarakat kampung naga sangat taat terhadap segala ketentuan yang berlaku di sana. Desa tua itu ternyata dibedakan dalam dua wilayah besar, yaitu "wilayah bersih" yakni wilayah yang berada di dalam pagar yang berisi rumah-rumah masyarakat adatnya, mesjid dan "rumah besar" sebagai pusat kegiatan adat di sana. Di Luar wilayah itu (di luar pagar) disebut sebagai "wilayah kotor" yaitu kolam pemeliharaan ikan, kandang-kandang kambing, WC (di atas kolam ikan) juga tempat numbuk padi dll. Yang unik juga, rumah-rumah mereka kanya boleh berpintu satu yang letaknya di depan sebelah kiri, juga tidak diperbolehkan memiliki meja kursi, tempat tidurnya hanya alas tipis biasa (tikar tebal) dan tidak ada lemari pakaian (pakaiannya di taro di mana?). Tidak ada listrik di sana. Jadi ya kalo malam mereka hanya pake "cempor" untuk penerangan secupuknya. Karena "wilayah bersih" mereka sudah penuh, maka tidak ada lagi menambahan unit rumah di sana. Jadi bila ada pasangan yang menikah, mereka memisahkan diri ke luar desa itu (di sekitar kampung naga) yang ternyata hampir semuanya "saudara" dari orang kampung naga. Kegiatan mereka adalah bertani, dan mereka hanya bertani di tanah adat yang mengelilingi kampung itu. Hasil dari pertaniannya tidak ada yang dijual, tapi hanya untuk kepentingan mereka sampai musim panen berikutnya. Jadi untuk tambahan hidup sehari-hari, kaum ibu-nya membuat berbagai kerajinan dari bambu (anyaman bambu) yang bisa dijual kepada pengunjung.

Masayarakat kampung naga sangat perhatian terhadap keaslian lingkungan. Kesadaran itu muncul berkenaan dengan pentingnya air dalam adat mereka. Mereka sangat takut bila air disekitar mereka berkurang atau habis. Ada dua hutan di sekitar desa itu yang oleh adat dilarang untuk "dijamah" oleh siapapun termasuk oleh masyarakat mereka sendiri. Mereka hanya diperbolehkan mengambil hasil dari tumbuhah yang ada di garis luar hutan tersebut. Dalam kesempatan saat itu juga anak-anak berkesempatan diajarkan oleh salah satu pemuda desa cara membuat "huhurangan" dan "simet" yang dianyam dari daun kelapa.

Setelah puas, kami meningglkan kampung naga dengan pesona yang tidak bisa kami lupakan, dan anak tangga dengan "tanjakan" yang panjang dan curam.....

Wah.....

Cape, tapi seru banget deh. Saderek-saderek yang belum kesana bisa coba untuk mampir di sana. Pasti seru.

02 February, 2007

Seru banget

Sudah satu minggu ini di tempat saya, dan mungkin di seluruh jabotabek, turun hujan terus menerus sehingga berita minggu ini didominasi oleh berita banjir, jalan macet, dll.
Seperti saya. Tiga hari belakangan ini, perjalanan nenuju tempat kerja (dari cileungsi ke cikarang) dilakukan dengan penuh perjuangan. Penuh perjuangan karena saya harus rela berantri-antrial lama untuk melewati beberapa tempat yang tergenang banjir. Tapi hari ini, antrial itu tak kunjung berjalan. Saya sudah mengantri kurang lebih 1 jam di daerah bantar begang, dan tidak bergerak juga. Jadi saya ambil inisiatif untuk berputar arah (ynag juga perlu perjuangan karena berbaliknya susah) kembali lagi mengambil jalan alternatif melalui setu. Setelah melewati setu, saya terjebak lagi macet. Rupanya di depan saya juga ada banjir. Hanya kendaraan besar saja, seperti truk, yang bisa melewati banjir itu. Duuhhhhh... kemana lagi ya?.... Sejenak saya berfikir. Oh iya,.... saya berputar arah lagi untuk kembali dan mengambil jalan melalui cibitung. Ketenangan saya tak terlalu lama, sebab tak lama dari sana saya terjebak lagi dalam kemacetan. Dari informasi tukang ojek, saya mengetahui bahwa di depan sana ada banjir juga. ....? Duuhhhhhhh... kemana lagi ya?............
Saya berfikir lagi....... ah saya ambil balik arah lagi saja. Rencananya sih mau pulang lagi dan akan balik lagi je jalan saya awal dan akan melalui jalan jonggol menuju cikarang.
Tapi tak berapa lama dari tempat tersebut, ada satu perumahan di sebelah kiri jalan, dan saya lihat beberapa kendaraan masuk melalui pintu itu. Iseng-iseng saya tanya sama petugas security apakah jalan tersebut bisa tembus ke setu,..... ternyata bisa. Wah saya senamg sekali. Saya lalui jalan tersebut. Tapi bukannya tidak ada banjir. Walaupun demikina, saya bisa lalui banjir tersebut.
Akhirnya saya sampai di kantor jam 9:00, itu berarti perjalanan saya yang biasanya hanya 1 jam menjadi 3 jam.
Yang menjadi perhatian saya sebenarnya begini,...... di musin kamarau, tanah di sekitar setu itu sangat kering, sampe pecah-pecah. Tapi diguyur hujan lebat beberapa hari saja, banjir di mana-mana. Kasihan petani,.. Pola tanam mereka jadi sukar untuk di prediksi. Ada lagi yang menarik. Pagi ini, hampir semua orang di perjalanan saya terlihat bingung mencari jalan. Tapi ada sebahagian maasyarakat yang terlihat bahagia menghadapi banjir ini, yaitu mereka yang dengan senang menebarkan jalanya atau yang memesang perangkap ikan di tengah-tengah genangan air yang luas. Itulah mungkijn yang namanya hikmah. Siapa saja yang bisa mengambil hikmah ditengah-tengah segala kejadian, mereka terlihat santai, tenang, bahkan bahagia.
Itu aja pengalaman saya pagi ini. Seru banget..............

24 November, 2006

mendidik dari kecil


Assalamualaikum Wr. Wb.,
Bicara pendidikan anak memang tidak ada habis-habisnya. Tapi saya tidak akan pernah merasa bosan dengan hal yang satu ini. Sehubungan dengan ini ada hal yang menurut saya menarik untuk dibicarakan, bahkan untuk didiskusikan.
Beberapa waktu yang lalu, saya pernah membaca suatu artikel di Internet yang berisi penemuan seorang peneliti di Jepang tentang karakteristik air yang memberi respons terhadap perkataan, perbuatan bahkan perasaan manusia. Butuh waktu 20 tahun bagi peneliti ini untuk meyakinkan dirinya atas hasil penelitiannya itu. Bahwa air akan memberi reaksi berupa susunan partikel air yang sangat indah dan kokoh apabila kita mengatakan sesuatu yang baik di dekatnya. Bahkan hal seperti itu akan berulang bila perasaan kita baik saat di dekatnya. Hal sebaliknya akan terjadi bila kita berkata-kata atau berperasaan buruk ketika didekatnya. Saya tidak membicarakan percaya atau tidak atas penemuan ini. Saya ambil saja positifnya, yaitu..bila penemuan itu benar.
Coba hubungkan (atau dihubung-hubungkan saja) dengan kejadian kita sebagai manusia sejak kita di dalam kandungan sampai sekarang. Sejak kita tumbuh sebagai janin di dalam kandungan, 95% lebih adalah air, juga air ketuban yang melindungi kita. Ketika kita lahir dan tumbuh sejak bayi hingga masa anak-anak, 80 s/d 90% bagian dari tuguh kita adalah air. Sampai kita dewasa kandungan air dalam tubuh kita mulai menurun. Dan hingga kita memasuki masa tua, kandungan air itu menurun lagi, tapi tetap lebih dari 50% dari tubuh kita adalah air.
Bila penemuan tadi benar, maka segala perkataan, sikap tindak, dan juga perasaan kita akan sangat direspon deng MUDAH oleh seorang manusia terlebih lagi sejak ia di dalam kandungan dan sepanjang masa pertumbuhannya,.... masa kanak-kanak yang saat itu kandungan air di dalam tubuhnya "penuh". Oleh karenanya, pertumbungan anak sejak bayi sangat ditentukan oleh pendidikan (segala contoh perkataan, sikap tindak dan perasaan) dari orang tuanya.
Mungkin ada yang tidak setuju dengan teori ini, tapi maksud saya,...saya ingin mengajak semua saderek untuk mendidik anak-anak kita sejk dini, karena hasil dari pendidikan itu tidak instan dapat kita rasakan melainkan setelah anak tersebut tumbuh remaja, dewasa dan seterusnya. Bila terlambat, belum ada alat sampai dengan saat ini yang dapat mengulang waktu yang sudah kita lewati.
Ingat, anak bisa membuat kita bahagia atau sebaliknya membuat kita celaka baik di dunia maupun di akhirat kelak. Itu tergantung kita. Allah telah memberikan kebebasan kepada kita untuk memilihnya. Mau untung....? atau mau rugi..... silahkan pilih sendiri.
Wassalamualaikum Wr.Wb.

01 November, 2006

Maaf lahir dan bathin


Mudah-mudahan saderek sadaya mau melapangkan dadanya untuk memaafkan segala kesalahan kami sakaluargi, amiin.

21 September, 2006

Salah Siapa?

Assalamualaikum,....
Belum lama ini saya pernah tulis cerita tentang sampah di Bantar Gebang. Waktu itu saya melihat bahwa segala sesuatu bisa menjadi manfaat atau sebaliknya menjadi bencana. Sampah bisa menimbulkan penyakit dll, tapi juga bisa menjadi sumber nafkah bagi sekelompok orang lainnya.
Tapi,.... Allahuakbar,.... berita terakhir yang saya terima, terjadi bencana di sana. Tumpukan sampah yang sudah menggunung itu runtuh dan menimpa orang-orang disekelilingnya, juga merusak properti lainnya.
Kalo sudah kejadiannya begini, semua pihak saling menyalahkan. Pemda Bekasi menyalahkan Perusahaan pengelola sampah, .... Perusahaan pengelola sampah menyalahkan infra struktur dan fasilitas yang ada,... dst...dst...
Disaat itu berjalan normal,.. semua pihak mau unjuk gigi bahwa dialah yang membuat semua itu berjalan normal. Yah... mungkin baru segitu aja mental orang Indonesia. Jadi salah siapa ini....?
Salah Pemerintahkah?.... Perusahaan pengelola sampahkah...? atau orang-orang sekitar lokasi yang memanfaatkan sampah itu yang kurang memperhatikan keamanan,..atau kesehatannya sendiri?
Salah Siapa ini..........

12 September, 2006

Hapunten

Assalamualaikum,
Dari pada ga nulis sama sekali, di hari menjelang Ramadhan ini saya sekeluarga mohon dibukakan pintu maaf yang seluas-luasnya apabila ada dari saya dan keluarga saya pernah membuat suatu kesalahan baik disengaja maupun tidak disengaja. Mudah-mudahan dengan demikian tidak ada ganjalan bagi kami dalam menjalani ibadah di bulan yang kita tunggu-tunggu ini,....... sebagai ladang amal yang maha luas tak terbatas.
Sebaliknya, kami sekeluarga tidak pernah merasa ada satu kesalahan pun dari saderek sadaya, dan kami iklas atas saderek sadaya.
Wassalam...

04 September, 2006

Obat ngompol?

Suatu hari, Herman..... katakanlah itu namanya, pergi ke rumah sahabat karibnya, Tomi. Setiap punya masalah Herman memang selalu menceritaknnya kepada Tomi.
Herman: " Tom, saya punya masalah berat nih. Kamu kan tahu, saya baru saja 1 bulan menikah. Kebiasaan saya,....... maksudnya, bahwa saya sampai saat ini masih ngompol. Hal itu baru diketahui istri saya, dan dia protes. Saya juga maluuuuuuuuu banget, sebab mertua saya juga tau,... bahkan orang tua saya yang selama ini tidak tahu, sekarang menjadi tahu. Gimana ya, saya maluuuuuuuuuu banget. Saya takut istri saya menceraikan saya".
Tomi: "...ya yang sudah, sudah lah Man. Kita cari jalan keluarnya. Saya hari ini cari informasi dulu mungkin ada dokter atau entah apa lah itu yang bisa menyembuhkan kebiasaan kamu itu".
Herman: " Ok, makasih ya Tom,... tapi jangan dokter ya. Saya sudah bosen berganti-ganti dokter. Tapi saya tetep aja ngompol".
Keesokannya, Herman menelpon Tomi dan mengatakan bahwa ia sudah mendapatkan cara pengobatan alternatif, ke seorang dukun yang sakti. Maka dengan diantar oleh Tomi Herman pergi ke dukun itu.
Herman: " Mbah, tolong saya untuk menghilangkan kebiasaan saya,...ngompol....he..he. Mungkin ini juga penyakit mbah. Saya yakin mbah bisa mengobatinya".
Mbah dukun: " memangnya kenapa? mgompolkan menurut ilmu kedukteran bukan hal yang membahayakan?".
Herman: " Iya,... tapi saya maluuuuuuuuu banget mbah. Masa udah tua begini masih ngompol".
Mbah: "Ya udah,...mbah buatkan ramuan mujarab ya.."
Maka Herman dan Tomi pun pulang.
Setelah seminggu, Tomi menghubungi Herman.
Tomi: " Gimana man... sudah ok sekarang?".
Herman: " Wah tom, mbah itu hebat banget lho, sekarang saya sudah tenang".
Tomi:".... wah syukurlah. Udah ngga ngompol lagi???".
Herman: " Ngompol sih masih. Tapi saya sekarang sudah ngga malu lagi"
Tomi: ..?????

.............................MAKANYA.......JANGAN KE DUKUN.........

22 August, 2006

Merdeka....

Tanggal 17 Agustus tahun ini, bahkan mungkin tahun-tahun sebelumnya, sangat ditunggu-tunggu kita semua. .....untuk merayakan hari kemerdekaan kita? Saya rasa tidak. Seperti saya misalnya. Untuk saya perayaan hari kemerdekaan kita itu, khususnya tahun ini, saya tunggu-tunggu karena ..liburnya panjang... he..he....
Tapi memang bener. Di hari libur yang panjang itu saya pergunakan untuk silaturrahmi sama keluarga, Bapa, Ibu, Ade-ade, Kakak jeung baraya lainnya. Jujur,.. itu yang saya rasakan. Mengenai perayaan kemerdekaan itu sendiri, saya melihatnya sudah kurang pas dengan arti kemerdekaan yang direbut melalui para pejuang kita dulu. Perayaan sekarang kurang mendidik generasi baru untuk mengerti apalagi menghayati kemerdekaan. Sekedar refreshing dari kesibukan sehari-hari saja.
Apalagi kalo kita mau bertanya,... sudah merdekakah kita? Terlebih di negara yang "terpuruk" ini, negara yang kita cintai.
Buat saya yang terpenting saat ini adalah, memerdekakan hati kita dari segala belenggu kemunafikan, keserakahan, kedengkian, iri,............

12 August, 2006

Merenung


Ngelamun?............
Bukan, mereka tengah melihat kebesaran alam, laut yang begitu luas tak berbatas, angin yang berhembus kencang terasa namun tak terlihat, burung-burung terbang di atas mereka, ikan yang bisa bernafas di laut. Semuanya terlihat sangat memukau, lujar biasa...........bagi orang yang mau merenungkan hal itu. Bagi sebahagian lain,...itu biasa saja.
Seperti halnya hari ini. Saya berangkat kerja melalui Bantar gebang ke arah Setu dan tembus ke Cikarang. Melalui daerah ini kita melewati suatu wilayah TPA (pemuangan sampah akhir) yang sangat kotor, kumuh,..... bau pula. Ke tempat ini warga jakarta membuang sampah, apapun bentuknya. Di mana-mana tumpukan sampah. Di satu sudut sebelah kanan saya, di antara tumpukan sampah itu, ada seorang laki-laki dengan pakaian compang-camping,.. kotor. Saya perhatikan dia..... dan saya berkesimpulan bahwa dia orang kurang waras (gila..mungkin) karena dia bicara sendiri, tertawa sendiri, kadang-kadang nangin dan teriak. Yang sangat mengherankan saya, laki-laki ini bisa diam seperti patung sampil telapak tangannya di buka di bagian bawah,.... dan tiba-tiba tangannya dihentakkan, ...menangkap lalat-lalat yang berkerumun di sekitarnya,...... dan dia memasukkannya ke mulut, mengunyahnya, dan menelannya. Kok Bisa,..kok ngga sakit?, itukan kotor?.... Saya tidak hanya sekali melihat orang ini melakukan itu, apa dia ga pernah sakit? Makan nasi ngga ya? Kalo makan nasi dari mana nasinya?
Di sekitar orang tadi, masih banyak lagi orang-orang yang melakukan aktifitas rutinnya,.. memulung sampah yang bisa dijual, seperti plastik, kardus dll. Pagi-pagi sekali mereka sudah keluar "rumah" yang terbuat dari kardus. Di sekitar rumahnya ada genangan air yang kotor dan bau. Sampah di mana-mana. Bila hujan, bisa dibayangkan bagaimana lingkungan mereka, rumah mereka. Tapi kok bisa mereka hidup di sana.
Renungkan. Bagi sebahagian orang , aktifitas mereka mungkin biasa-biasa saja. Dan itu banyak terjadi di kota-kota besar. Tapi coba sekali lagi renungkan dalam-dalam. Nilai-Nilai apa yang bisa kita ambil dari fragmen yang saya lihat tadi.
Allah memberikan kita rizki dari segala sesuatu yang tidak disangka-sangka. Kita tidak bisa memperkirakan kehendakNya. Renungkan,...... mudah-mudahan bertambahlah ilmu kita,...pengertian kita........

09 August, 2006

Chika tea

Saya belum cerita tentang anak pertama saya. Asak saya ini lahir dengan berat kurang dari 3 kg. Pertumbuhan fisik dan psihisnya setelah kelahiranpun tidak menghawatirkan. Anak ini tumbuh dengan cepat, kecuali pertumbuhan rambutnya. Saat pertama kali cukuran (dibotakin) rambutnya tidak segera tumbuh. Satu tahun saya harus bersabar untuk melihat rambutnya tumbuh kembali. Dia jadi seperti fisiknya laki-laki. Pernah suatu ketika di sebuah toserba, pembeli lain di samping dia memanggilnya "mas". Lucu juga ya... sekalian kasian juga. Tapi lama kelamaan, tuh rambut tumbuh juga.... and sekarang malah maunya dipotong pendek.
Sekarang Chika saudah kelas 4 SD. Lebih menyukai segala sesuatu yang bersifat seni, sosial dll dibanding dengan yang bersifat eksak seperti matematika dll. Di sekolahpun ia berkambang di atas rata-rata teman lannya,.. walaupun bukan...eh belum juara kelas. Ia suka juga komputer dan sudah terbiada dengan brosing di internet. Waktu pertama kalinya dia saya tunjukan blog saya, komentarnya macam-macam. Mungkin ada baiknya kalo saderek sadayana mau memberi sedikit komenter buat dia,... yang bisa dia baca,...dan bisa dia balas, dia pasti akan senang,
Udah dulu ah,.. cerita anak melulu,... besok-besok saya akan tulis yang lainnya, supaya gak bosen. Wassalam.

04 August, 2006

Paksa atau sukarela


Pendidikan bagi anak-anak,... semua pasti setuju merupakan salah satu "kebutuhan" keluarga. Semua orang tua tentunya ingin memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Semua berlomba sekuat tenaga ingin menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah pavorit di lingkungannya. Sampai-sampai sebagian dari kita lupa bahwa pendidikan itu bukan hanya menyekolahkan anak-anak, tapi juga segala pengetahuan yang kita miliki, kebiasaan-kebiasaan baik, yang semuanya mengkristal menjadi tauladan yang dengan sangat mudah diikuti dan bisa mendarah daging pada diri anak-anak kita.
Saya punya pengalaman unik mengenai hal ini. Anak kedua saya, Chiara, pada usianya yang ke 3 ingin sekolah bersama teman-temannya. Jadi saya daftarkan di sekolah yang menurut saya bagus, menurut saya. Hal yang unik dari anak saya adalah, ia tidak suka pakaian yang berkancing (semua pakaian hariannya kaos oblong). Jadi saya minta pihak sekolah untuk membuat khusus seragam anak saya tidak berkancing, tapi dengan sleting.
Hari pertama masuk sekolah seprtinya tidak ada masalah apa-apa, sampai pada hari ke tiga ia tidak mau masuk sekolah. Ada apa?.... sampai hari ini saya tidak berani menebak ada apa. Ia hanya beralasan tidak mau memakai baju yang berkancing,.. padahal baju seragamnya tidak berkancing. Beberapa hari kemudian saya tawarkan untuk masuk kembali ke sekolah, ia mau, tapi harus diantar. Tapi hari berikutnya dan hari-hari setelah itu ia tidak mau pergi ke sekolah lagi.
Rugikah saya?.... secara finansial saya mungkin rugi, karena uang yang telah saya bayarkan tidak bisa dikembalikan oleh sekolah. Tapi yang lebih rugi lagi adalah batin saya yang merasa tidak bisa memberikan "pendidikan" kepada anak saya ini. Saya sering mengeluhkan masalah ini (curhat) kepada rekan-rekan saya yang mungkin punya pengalaman yang sama. Tapi tidak juga mendapat jawaban, sampai saya menemukannya sendiri dari dalam diri saya,.. hati saya,... bahwa pendidikan yang saya maksud bisa saya berikan dari lingkungan rumah saya sendiri. Dan yang paling saya rasakan "manjur" adalah memberikan contoh kepada anak-anak tentang segala sesuatu yang kita anggap baik. Saya tidak memaksakan sesuatu yang dia tidak mampu melakukannya. Tidak mau sekolah...........? biarlah, saya akan sabar menunggu sampai dia mau.
Sampai dia berumur hampir lima tahun dia belum juga mau masuk sekolah, sementara teman-teman seumur di lingkungan saya sudah sekolah semua. Tapi kesabaran saya itu rupanya diperhatikan oleh Allah. Beberapa saat sebelum masa sekolah mulai, anak saya mau sekolah dan memilih sekolah yang, menurut saya, kurang bagus. Tapi ternyata saya yang salah. Anak saya sangat menikmati kegiatannya di sekolahnya yang sekarang, yang menurut saya lebih "sumpek", fasilitasnya kurang memadai, dll. Saya kaget karena dalam waktu kurang dari 2 minggu anak saya sudah dapat melafalkan beberapa doa, surat pendek,... dan ia lebih percaya diri dan mandiri. Padalah saya berencana, sebelumnya, akan "memaksa" anak saya untuk sekolah,.... saya salah.... saya tahu itu.
Sekarang anak saya duduk di TKB, dan dari raut mukanya saya tahu bahwa dia senang karena telah mendapatkan apa yang ia inginkan, bukan paksaan dari saya, tapi ia mendapatkannya sendiri.....secara sukarela.
Mudah-mudahan pengalaman ini ada manfaatnya bagi diri saya dan keluarga, juga tentunya bagi saudara-saudara yang lain yang punya masalah yang sama. Jangan putus asa,.. jangan kecewa,... percayalah Allah telah mentukan rencanaNya yang sangat sesuai bagi kita.

28 July, 2006

keluargaku

Pertama-tama saya bingung apa yang harus saya tulis, karena menulis adalah kelemahan saya. Saya berfikir, terus berfikir,... sampai sekilas terfikir mengenai usia. Tiba-tiba saya sadar bahwa usia saya sudah 37 tahun. Saya merenung sejenak... Apa yang telah saya perbuat?....... apa yang telah saya dapatkan,... dan apa yang ingin saya perbuat dan dapatkan. Mungkin saya belum tahu.
Yang beberapa saat kemudian saya rasakan sangat dalam adalah, saya sudah berkeluarga, mempunyai seorang istri dan 2 orang anak yang yang sangat saya cintai dan sayangi. Apa yang harus saya perbuat untuk mereka? Apa pula yang dapat saya raih melalui mereka? Apakah fikiran saya ini terlalu idealis?.... saya juga tidak tahu.
Istri saya, Mulety, adalah seorang wanita jawa yang dilahirkan di Jakarta, 7 Juli 1969. Sejak kecil sudah terbiasa dengan kondisi yang serba susah. Ayah yang hanya seorang polisi balokan dan di"tumpangi" oleh beberapa saudara pula, menambah kondisi keluarga semakih sulit. SubhanAllah,... tapi Allah punya rencana lain. Kondisi seperti itu rupanya merupakan ujian yang beberapa waktu kemudian membentuknya menjadi seorang yang berpendirian tegar, pantang menyerah. Dihiasi dengan kasih sayang seorang ibu yang selalu ada saat dibutuhkan, ikut pula membentuk nuansa kasih sayang yang ada padanya. Ya Allah,... lindungi istri saya selalu agar ia dapat memberi lebih banyak kasih sayang kepada anak-anak kami.
Anak pertama saya, Chika Athaya Chairunnisa, .... ispirasi pertama saya dalam berkeluarga. Sejak anak saya ini lahir saya baru benar-benar sadar dan dapat dengan nyata merasakan bahwa saya telah berkeluarga,... menjadi seorang anak. Lahir di Jakarta tanggal 27 Maret 1997, bayi Chika sangat mungil. Beratnya kurang dari 3 kg. Saya ikut menyaksikan proses kelahiran Chika detik demi detik. Saat itu saya dapat merasakan perjuangan istri saya untuk melahirkan,.. juga perjuangan Chika untuk keluar dari perut ibunya. Saya sangat beruntung dapat menyaksikan kejadian luar biasa itu dan .... dan saya yakin itu adalah kehendakNya.
Anak saya yang kedua, Chiara Azzuraa hanifah, lahir di bekasi kurang dari 5 tahun lalu. Tepatnya pada tanggal 14 Oktober 2001. Berbeda dengan kakaknya, banyi Chiara lahir dengan berat 4 kg. Tapi sayang saat itu saya tidak binya menyaksikan proses kelahirannya secara langsung. Saya hanya bisa mendengar tangis kelahirannya..... saat itu saya sedang shalat Zhuhur. Alhamdulillah,.. saya sudah punya 2 orang anak, begitu saya bergumam dalam doa saya.
Semoga Allah senantiasa melindungi seluruh keluarga saya, orang tua saya,.... semuanya.