
Pendidikan bagi anak-anak,... semua pasti setuju merupakan salah satu "kebutuhan" keluarga. Semua orang tua tentunya ingin memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Semua berlomba sekuat tenaga ingin menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah pavorit di lingkungannya. Sampai-sampai sebagian dari kita lupa bahwa pendidikan itu bukan hanya menyekolahkan anak-anak, tapi juga segala pengetahuan yang kita miliki, kebiasaan-kebiasaan baik, yang semuanya mengkristal menjadi tauladan yang dengan sangat mudah diikuti dan bisa mendarah daging pada diri anak-anak kita.
Saya punya pengalaman unik mengenai hal ini. Anak kedua saya, Chiara, pada usianya yang ke 3 ingin sekolah bersama teman-temannya. Jadi saya daftarkan di sekolah yang menurut saya bagus, menurut saya. Hal yang unik dari anak saya adalah, ia tidak suka pakaian yang berkancing (semua pakaian hariannya kaos oblong). Jadi saya minta pihak sekolah untuk membuat khusus seragam anak saya tidak berkancing, tapi dengan sleting.
Hari pertama masuk sekolah seprtinya tidak ada masalah apa-apa, sampai pada hari ke tiga ia tidak mau masuk sekolah. Ada apa?.... sampai hari ini saya tidak berani menebak ada apa. Ia hanya beralasan tidak mau memakai baju yang berkancing,.. padahal baju seragamnya tidak berkancing. Beberapa hari kemudian saya tawarkan untuk masuk kembali ke sekolah, ia mau, tapi harus diantar. Tapi hari berikutnya dan hari-hari setelah itu ia tidak mau pergi ke sekolah lagi.
Rugikah saya?.... secara finansial saya mungkin rugi, karena uang yang telah saya bayarkan tidak bisa dikembalikan oleh sekolah. Tapi yang lebih rugi lagi adalah batin saya yang merasa tidak bisa memberikan "pendidikan" kepada anak saya ini. Saya sering mengeluhkan masalah ini (curhat) kepada rekan-rekan saya yang mungkin punya pengalaman yang sama. Tapi tidak juga mendapat jawaban, sampai saya menemukannya sendiri dari dalam diri saya,.. hati saya,... bahwa pendidikan yang saya maksud bisa saya berikan dari lingkungan rumah saya sendiri. Dan yang paling saya rasakan "manjur" adalah memberikan contoh kepada anak-anak tentang segala sesuatu yang kita anggap baik. Saya tidak memaksakan sesuatu yang dia tidak mampu melakukannya. Tidak mau sekolah...........? biarlah, saya akan sabar menunggu sampai dia mau.
Sampai dia berumur hampir lima tahun dia belum juga mau masuk sekolah, sementara teman-teman seumur di lingkungan saya sudah sekolah semua. Tapi kesabaran saya itu rupanya diperhatikan oleh Allah. Beberapa saat sebelum masa sekolah mulai, anak saya mau sekolah dan memilih sekolah yang, menurut saya, kurang bagus. Tapi ternyata saya yang salah. Anak saya sangat menikmati kegiatannya di sekolahnya yang sekarang, yang menurut saya lebih "sumpek", fasilitasnya kurang memadai, dll. Saya kaget karena dalam waktu kurang dari 2 minggu anak saya sudah dapat melafalkan beberapa doa, surat pendek,... dan ia lebih percaya diri dan mandiri. Padalah saya berencana, sebelumnya, akan "memaksa" anak saya untuk sekolah,.... saya salah.... saya tahu itu.
Sekarang anak saya duduk di TKB, dan dari raut mukanya saya tahu bahwa dia senang karena telah mendapatkan apa yang ia inginkan, bukan paksaan dari saya, tapi ia mendapatkannya sendiri.....secara sukarela.
Mudah-mudahan pengalaman ini ada manfaatnya bagi diri saya dan keluarga, juga tentunya bagi saudara-saudara yang lain yang punya masalah yang sama. Jangan putus asa,.. jangan kecewa,... percayalah Allah telah mentukan rencanaNya yang sangat sesuai bagi kita.